Islam
telah berdiri sejak 1435 tahun yang lalu. Dalam perkembangannya Islam selalu
melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang arif dan bijak sana yang dapat kita
teladani perangainya. Sudah tentu Rasulullah saw harus menjadi panutan
dan teladan kita didalam semua urusan kita,. Disamping itu kita juga mempunyai
orang-orang hebat lainya yang dapatb kita ambil teladannya seperti para
Khulafaur Rasyidin, Para sahabat, para imam dan lain-lain. Salah satu toktoh
yang berperan dalam Islam adalah Muhammad Al-fathi.
Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja
atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh
dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat
pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi
Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.
Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30
tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan
wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan
wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil
mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan
Utsmani.
Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835
H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia
adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar
terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang
pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil
yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis,
memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang.
Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab,
Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat
lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!
Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah,
Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan
bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari
bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama
diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan
dengan pemahaman Islam yang benar.
Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah
Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M.
Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah
adalah menaklukkan Konstantinopel.
Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan
untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik
luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang
telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya.
Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan
Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun
militer.
Selain terkenal sebagai jenderal perang dan
berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad
al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan,
kumpulan syair yang ia buat sendiri.
Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300
masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani.
Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’
Abu Ayyub al-Anshari
Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M,
Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang
dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah
dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun
dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah
pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu
Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang
mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter
pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.
Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan
sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang
mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang
mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.
Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan
kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat
dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar
menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.
Semoga
Allah membalas jasa-jasanya Aaamiinn..
Komentar