Indonesia Yang Mulai Lenyap


Indonesia! oh Indonesia!

Sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga kita. Nama yang begitu indah disebut dan berharga disemua mata bangsa. Salah satu nama yang hebat yang tercipta di dunia. Nama yang bukan hanya sekedar nama. Nama yang memiliki arti tersendiri dan memiliki kisah yang panjang. Yah, itulah Indonesia. Negara kita tercinta.
                Wahai kawan-kawan,  seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki banyak sekali ragam budaya dan keseniannya yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia. dari sabang sampai merauke terdapat beribu-ribu kebudayaan dan tradisi. Namun apakah yang kalian pikirkan sekarang tentang budaya itu? Jika jawaban kalian berpikir ‘pudar’maka kalian memiliki pikiran yang sama dengan saya. Yah, pudar. Sebuah kata tapi bermakna. Seperti yang kita lihat kawan, banyak sekali kesenian dan budaya Indonesia yang mulai ditinggalkan dan lama-kelamaan menghilang. Kalian tahu apa penyebabnya? Yah jawabannya akan sangat beragam jika ditinaju dari berbagai aspek, namun yang paling jelas terlihat adalah karena pengaruh globalisasi dan modernisasi.

Di zaman modernisasi ini yang terpengaruhi oleh globalisasi banyak bangsa Indonesia yang terpengaruh oleh doktrin-doktrin mode teknologi. Mereka beranggapan bahwa kebudayaan adalah hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Mereka lebih menyukai hal-hal yang berbau ‘luar negri’ataupun ‘ke-ingris-inggrisan’.  Padahal sebenarnya banyak hal dari kebudayaan Indonesia yang sama saja dengan kebudayaan luar. Entah mengapa banyak diantara mereka merasa malu dan kudet ataupun ndeso saat melakukan sebuah tradisi ataupun sebuah nilai budaya di suatu tempat. 

Sudah banyak budaya kita yang mulai hilang entah itu karena mulai ditinggalkan oleh kita ataupun tidak kita jaga dan kita lestarikan sehinga ada yang punah ataupun diklaim oleh Negara lain sebagai kebudayaannya. Sebagai contoh saja permainan tradisional yang sangat kita gemari di era 90-an dan sebelumnya sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak zaman sekarang. Anak-anak zaman sekarang ebih suka main benda-benda elektronik dan cenderung yang bersifat individualistic seperti Play Station, Warnet, Point Blank, dan permainan-permainan yang terdapat di play store di smart phone. Coba kita lihat kesekitar kita. Sekarang anak kecil umur 4 tahun saja sudah memegang dan bisa bahkan ahli dalam memainkan tablet atau smart phone terbaru. Lihatlah! Permainan-permainan yang bersifat afektiv mulai mereka tinggalkan seperti petak umpat, gelatik, kelereng, congklak, dan lain-lainnya. Padahal permainan terebut turut serta dalam meningkatkan afektiv dan keaktifan anak dalam bersikap dan berperilaku. Selain itu permainan-permainan tersebut juga meningkatkan rasa pertemanan, kebersamaan dan sosialisasi diantara teman-temannya bahkan dengan keluarga temannya. Tapi lihatlah! Anak-anak yang hanya bermain gadget ataupun alat-alat elektronik lain cenderung memiliki sifat yang individualisme. Dia juga tidak terlalu aktif dan cenderung malas disbanding dengan anak yang bermain permainan-permainan dulu. Bukan hanya itu, kesehatan ank juga menjadi terganggu karena terlalu lama menatap layar monitor ataupun layar smartphone.


masihkah kalian ingat akan permainan-permainan ini? ataukah kalian salah satu cerminan masa moderen?




Nah itu hanyalah sebagian kecil dari kebaikan permainan dan kebudayaan kita. Namun banyak dari kita yang sudah meniggalkannya. Sebenarnya hal yang baru dan kita anggap baik belum tentu baik bagi kita. Maka marilah kita menjaga budaya Indonesia. Melestarikan dan membudayakannya. Jadilah Bangga dengan Budaya Indonesia. “WE LOVE INDONESIA”.

Komentar