assalamualaikum teman-teman!
kali
ini ane mau sedikit mengulas tentang salah satu perang yang hebat.
perang apa itu? yah, benar. Kali ini ane mau berbagi sedikit tentang
Perang Mu'tah. tapi sebelumnya kalian sudah tau apa sih perang mu'tah
itu?. perang Mu'tah adalah salah satu perang yang pernah terjadi pada
masa Rasulullah saw. perang ini mlibatkan pasukan kaum Muslimin yang
melawan Kaum
kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan
Nashara Arab. mengapa disebut Perang Mu'tah? karena perang ini terjadi di dekat kampung Mu'tah di sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak. perang ini terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah.
![]() |
| mu'tah |
perang
Mu'tah ini terjadi karena dilatar belakangi oleh beberapa peristiwa.
setelah perjanjian Hudaibiyah disepakati Rasullullah mengirimkan
surat-surat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yg
berbatasan dengan jazirah arab, termasuk Romawi. Pada Tahun 7 hijriah
Rasulullah menugaskan al-Harits bin ‘Umair
untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam (Irak) bernama
Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran
Romawi. Dalam Perjalanan, di daerah sekitar Mu'tah, al-Harits bin ‘Umair
dicegat dan dibunuh oleh penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr
al-Ghassani pemimpin dari suku Ghassaniyah. Dan Pada tahun yg sama
Utusan Rasulullah pada Banu Sulayman dan Dhat al
Talh daerah di sekitar negeri Syam (Irak) juga dibunuh oleh penguasa
sekitar. hal ini menjadi misteri, karena sebelum-sebelumnya belum pernah
terjadi hal seperti ini. maka hal ini mengundang perang antara kaum
Muslim melawan kaum Romawi.
sebelum
melaksanakan peperangan, pasukan Muslimin membentuk strategi perang
dengan cara berdirinya panji-panji islam secara estafet. Rasulullah
shalallahu ‘alaihi wassalam menunjuk tiga orang
sahabat sekaligus mengemban amanah komandansecara bergantian bila
komandan sebelumnya gugur dalam tugas di medan peperangan hingga
mengakibatkan tidak dapat meneruskan kepemimpinan maka akan diteruskan
dan digantikan oleh komandan selanjutnya. dan para sahabt yang terpilih
ntuk menjadi jajaran komdan tersebut adalah Ja'far bin Abi Thalib, Zaid
bin Haritsah dan Abdullah bin Rawahah.
setelah
pasukan muslim yang berjumlah 3000 orang diberangkatkan dan ketika
mereka sampai di Ma'an, tersengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan
100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani
dari beberapa suku Arab pun telah siap dengan jumlah yang sama.
Mendengar kabar demikian, sebagian sahabat radhiyallahu ‘anhum
mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah atau beliau
memutuskan suatu perintah. dan jika kita bandingkan memang julah
tersebut memeang sangat tidak sebanding. lantas, apakah yang terjadi?
apakah mereka meminta bantuan kepada Rasulullah? tidak! Abdullah bin
Rawanah dengan berani dan percaya diri mengobarkan semangat
juang para sahabat perang Mu'tah dengan
perkataannya ,“Demi Allah, sesungguhnya perkata yang kalian tidak sukai
ini adalah perkata yang kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur
dimedan perang dijalan Allah Azza wa Jalla). Kita itu tidak berjuang
karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita berjuang untuk agama
ini yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya.
Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau
gugur (syahid) di medan perang.”. dengan perkataan semngat juang
Abdullah bin Rawanah ini pasukan Muslimin enjadi tersadar, lantas mereka
menanggapi dan berkata, “ Demi Allah, Ibnu Rawanah berkata benar”.
Zaid bin Haritsah panglima pertama yang ditunjuk
Rasulullah kemudian membawa pasukan ke
wilayah Mu’tah. Dua pasukan berhadapan dengan sengit. Komandan pertama
ini menebasi anak panah-anak panah pasukan musuh sampai akhirnya syahid di jalan Allah.
Bendera pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib. Sepupu Rasulullah ini berperang mati-matian
sampai tangan kanannya putus ditebas oleh pedang musush. lalu bendera islam beliau pegangi dengan tangan kiri,
dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi seperti itu,
semangat beliau tak mengenal surut, ia tetap berusaha mempertahankan
bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.
Berdasarkan keterangan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang
saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidakkurang 90
luka di bagian tubuh depan beliau baik akibat tusukan pedang dan maupun
anak panah.
Giliran ‘Abdullah bin Rawanah radhiyallahu ‘anhu pun datang. Setelah
menerjang musuh, ajal pun memjemput beliau di medan peperangan.
Tsabit bin Arqam radhiyallahu ‘anhu mengambil bendera yang telah tak
bertuan itu dan berteriak memanggil para Sahabat Nabi agar menentukan
pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada
Khalid bin Walid. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan
siasat dan strategi yang ia bentuk, kaum
muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
memperhatikan
peperangan ini, secara logisnya pasukan muslim mendapat kekalahan
dengan jumlah pasukan yang tidak sebanding dengan kaum Romaw. Imam Ibnu
Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap
kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir
dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang
menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam
agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla,
dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang
berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu
orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski
demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum
muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat
banyak”
Nah, setelah kita membaca sampai akhitr ini, banyak nilai dan ibrah yang dapat kita ambil dari Perang Mutáh ini. sekarang pikirkan apakah yang bisa kalian ambil dari peristiwa ini?
hmmm... mungkin cukup sekian dari ane.
hmmm... mungkin cukup sekian dari ane.
terima kasih dan, wassalamualaikum


Komentar