Taukah kalian kalau para
pejuang pergeraka kemerdekaan Indonesia pernah merasakan bahkan sering
merasakan yang namanya pengasingan. Itu semua adalah bagian pengorbanan mereka
untuk kemerdekaan Indonesia. Nah ada bnyak tempat yang digunakan oleh para kolonial
belanda untuk mengasingkan para pejuang Indonesia. Salah satu diantaranya
adalah Boven Digul. Nah, kali ini ane mau memahas sedikit tentang Boven Digul
nih teme-temen.
Boven Digoel adalah penjara alam di Pulau Papua yang buas dan
terpencil. Kondisi penjara ini sangat tidak bersahabat
dan digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda
untuk mematahkan perlawanan kaum pergerakan. Menurut
Sumber lain, Boven Digoel adalah tempat
pembuangan/pengasingan/hukuman bagi orang-orang yang dianggap membahayakan
pemerintahan kolonial Belanda. Kamp Bouven Digul terletak di hilir
tepi sungai Digul dan Kamp tersebut dipersiapkan dengan tergesa-gesa untuk
mengatasi kebijakan akhir pemerintah kolonial terhadap orang-orang yang
terlibat dalam pemberontakan komunis
1926. Luas wilayah kawasan itu hampir 10.000 hektar, dan terkenal sangat
terasing dari dunia luar. Sedangkan menurut buku Ensiklopedia Digul atau Digul
Atas (Belanda: Boven Digoel) adalah sebuah daerah hutan lebat, sebelah
timur sungai Digul Hilir, Irian jaya, tempat ini terkenal sebagai tempat
pembuangan pejuang-pejuang kemerdekaan. Tempat ini terasing dari peradaban
masyarakat.
Gubernur Jendral Hindia Belanda memiliki senjata andal dalam
membatasi ruang gerak kaum pergerakan nasional.
Gubernur Jendral berhak membuang dan memenjarakan seseorang yang dinilai
membahayakan keamanan dan ketertiban tanpa melalui pengadilan. Selama
pemerintah Gubernur Jenderal De Jogne, banyak tokoh nasionalis Indonesia
dijerat hak ini.Tidak ada
tempat pengasingan yang lebih menghancurkan semangat selain Bouven Digul di Papua.
Menurut beberapa sumber ,
kuranglebih seperti ini sejarah pembangunan penjara
Bouven Digul
Awalnya tempat pembuangan tokoh-tokoh Indonesia pada zaman Belanda ini
terdapat di Luar Negeri, bebarapa tokoh-tokoh Indonesia telah dibuang dan
diasingkan di Luar Indonesia, tokoh Indonesia yang terakhir dibuang di Luar
Negeri adalah Semaun
dan Darsono (dua orang ini adalah pemimpin pemogokan kaum buruh pada tahun
1923). Sebelas tahun sebelumnya dibuang ke Eropa tiga pemimpin partai politik
pertama di Indonesia antara lain E.F.E Douwes Deker, Suwardi Suryaningrat, Tjipto Mangunkusumo. Kemudian karena di Bouven Digul
diperkuat administrasinya oleh Belanda sehingga dibangunlah pengasingan oleh
kekuasaan militer pada saat itu. Kamp konsentrasi Boven Digoel didirikan oleh
Kapten L. Th. Becking pada awal tahun 1927. Sebelumnya Kapten ini dikenal
sukses memadamkan pemberontakan komuni di Banten pada November 1926.
Bouven Digul sebenarnya tidak dirancang sebagai sebuah kamp konsentrasi
karena tidak ada penyiksaan atau pembunuhan terhadap tawanan di tempat itu.
Pemerintahan kolonial hanya membiarkan tawanan sampai mati, gila atau menjadi
hancur. Dengan adanya pembangunan kamp Bouven Digul ini maka pengasingan di
Luar Negeri dihentikan. Pembangunan Penjara Bouven Digul ini
dibangun untuk pengasingan orang-orang yang dianggap terlibat ataupun
bersimpati dalam pemberontakan pada tahun 1926-1927, tanpa melalui
keputusan pengadilan.
Pemberontakan pada masa itu tercatat dalam sejarah
menjadi pemberontakan Nasional pertama di Indonesia karena 2 alasan. Pertama,
berbagai pemberontakan terjadi di Kariseidenan-karisidenan di Jawa, Sumatera,
Kalimantan,
Sulawesi
dan Maluku
yang digerakkan oleh tokoh-tokoh dari berbagai aliran politik
dan pemeluk agama.
Kedua, Sebelumnya tidak pernah terjadi pemberontakan besar di wilayah yang
demikian luas tanpa membedakan suku maupun agama, walaupun tanpa koordinasi
Nasional, dengan Partai Komunis Indonesia sebagai ujung
tombak dan menjadi pemula dalam pemberontakan itu Pemberontakan ini bermuara di
Digul Hulu atau Bouven Digul.
Gubernur Jendral de Graef berhadap dengan mengirimkan para pemberontak ke
kamp Bouven Digul itu mereka tidak akan mengulangi kelakuannya lagi pada masa
selanjutnya. Sebenarnya kompleks penjara ini dibangun oleh Belanda secara
bertahap-tahap dan merintis administrasi secara kuat, agar para tawanan sulit
untuk melarikan diri, kemudian ketika penjara ini sudah jadi, kemudian beberapa
tokoh Indonesia yang fenomenal dibuang oleh pemerintahan kolonial Belanda pada
tahun 1935, tokoh-tokoh tersebut adalah Mohammad Hatta (wakil Presiden 1945),
Sutan Syahir, dan para tokoh perjuangan lainnya. Sutan Syahrir merupakan
pemimpin Partai Nasional Indonesia yang pemberontakan terhadap Hindia-Belanda. Pergerakan
yang dipimpin oleh Sutan syahrir ini selalu dikejar-kejar dengan bantuan semua
undang-undang dan peraturan yang diperlukan untuk melindungi kekuasaan dan
ketentraman Pemerintah Hindia Belanda, dengan persetujuan Pemerintah dan
parlemen Belanda. Pada tahun 1934 seluruh pengurus PNI baru ditangkap dan
pemimimpin juga kadernya dibuang ke Boven digul. Kemudian satu tahun kemudian
hatta dan sutan syahrir dipindahkan untuk waktu yang tidak ditentukan ke suatu
tempat yang dianggap layak bagi seorang cendikiawan, yaitu pulau Bnada Neira di
Maluku.
Nah itulah sekilas tentang
Boven-Digul. Mungkin sekian dari ane dulu ya ..
Komentar