Sebuah pepatah arab
mengatakan
"laysal fataa man yaquuluu kaanaa aabii, innal fataa man yaquuluu haa anaadzaa"
"bukanlah seorang pemuda yang mengatakan 'Inilah Bapak saya', namun pemud itu adalah orang yang mengatakan 'Inilah Saya' "
yup teman-teman, mahfudzot diatas adalah mahfudzot sederhana namun berkena. mungkin masih banyak orang yang kurang memperhatikan pepatah ini. bisa kita lihat masih banyak pemuda-pemudi indonesia yang terlalu membanggakan orang tua merka sendiri. mereka menganggap seolah mereka yang paling berkuasa dikerenakan orang tua mereka. seakan orang tua mereka lah yang patut di hormati dan ditakuti oleh rang lain. ia membuat orang tua mereka sebagai salah satu kelebihan mereka sendiri. entah orang tua mereka adalah pejabat, presiden, pengusaha terkenal dan sukses, seorang CEO perusahaan ternama atau orang tua mereka adalah orang yang kaya dan berkecukupan dibanding orang lain. hal-hal tersebut dapat membuat seorang anak sangat mengandalkan orang tuanya dalam pergaulan sesamanya. mungkin mereka akan bercerita bagaimana enaknya hidup bersama orang tua mereka, pergi kemanapun mudah, bisa main-main keluar negri sesuka hati, gonta ganti mobil setiap hari dan masih banyak lagi.
tapi, sadarlah teman. itu semua bukan milikmu. memang ia berhak menikmati jerih payah orang tua mereka. dan jika ada oang yang berlebihan dalam menyikapi kelebihan orang tuanya, maka menurut saya, orang tersebut biasa-biasa saja. siapalah dia mau mengatakan dia itu orang kaya, sukses dan yang lain sebagainya. yang kaya itu orang tuanya, yang kaya dan yang punya harta tu orangtuanya. dia tidak punya apa-apa. di sama saja memulai dari 0, namun bedanya dia hanya terlalu dimanja oleh orangtuanya yang memliliki lebih dari kecukupannya dengan diberikan seluruh fasilitas yang diinginkannya. kebanyakan anak-anak yang mengalami hal tersebut menjadi anak yang manja, 'aku gak bilang semuanya loh'. mereka menganggap seolah dia itu memiliki kehidupan dari 60. dan sebenarnya 60 itu dari orang tua mereka.
percayalah teman, kadang kala kekayaan, martabat, dan jabatan itu membuat kita lebih sensi, dan memiliki ego yang besar terhadap sesama kita. kadang kita menjadi tidak peduli dengan teman kita karena kita lebih mementingkan diri sendiri dengan kekayaan orang tua kita. tidak peduli dengan teman kita. dengan beranggapan ' ah sudahlah, salah siapa orangttuanya tidak seperti orang tuaku'. oleh karena itu marilah kita menjadi pemuda yang sesungguhnya, tanpa melebihkan dan terlalu bergantung dengan orang tua kita. kita harus membanggakan orangtua kita, namun jangan disalah artikan menjadi sebuah kesombongan.
jadi, mari kita lebih peduli dengan sesama kita dan menjadi pemuda dan pemudi yang sesungguhnya.
"laysal fataa man yaquuluu kaanaa aabii, innal fataa man yaquuluu haa anaadzaa"
"bukanlah seorang pemuda yang mengatakan 'Inilah Bapak saya', namun pemud itu adalah orang yang mengatakan 'Inilah Saya' "
yup teman-teman, mahfudzot diatas adalah mahfudzot sederhana namun berkena. mungkin masih banyak orang yang kurang memperhatikan pepatah ini. bisa kita lihat masih banyak pemuda-pemudi indonesia yang terlalu membanggakan orang tua merka sendiri. mereka menganggap seolah mereka yang paling berkuasa dikerenakan orang tua mereka. seakan orang tua mereka lah yang patut di hormati dan ditakuti oleh rang lain. ia membuat orang tua mereka sebagai salah satu kelebihan mereka sendiri. entah orang tua mereka adalah pejabat, presiden, pengusaha terkenal dan sukses, seorang CEO perusahaan ternama atau orang tua mereka adalah orang yang kaya dan berkecukupan dibanding orang lain. hal-hal tersebut dapat membuat seorang anak sangat mengandalkan orang tuanya dalam pergaulan sesamanya. mungkin mereka akan bercerita bagaimana enaknya hidup bersama orang tua mereka, pergi kemanapun mudah, bisa main-main keluar negri sesuka hati, gonta ganti mobil setiap hari dan masih banyak lagi.
tapi, sadarlah teman. itu semua bukan milikmu. memang ia berhak menikmati jerih payah orang tua mereka. dan jika ada oang yang berlebihan dalam menyikapi kelebihan orang tuanya, maka menurut saya, orang tersebut biasa-biasa saja. siapalah dia mau mengatakan dia itu orang kaya, sukses dan yang lain sebagainya. yang kaya itu orang tuanya, yang kaya dan yang punya harta tu orangtuanya. dia tidak punya apa-apa. di sama saja memulai dari 0, namun bedanya dia hanya terlalu dimanja oleh orangtuanya yang memliliki lebih dari kecukupannya dengan diberikan seluruh fasilitas yang diinginkannya. kebanyakan anak-anak yang mengalami hal tersebut menjadi anak yang manja, 'aku gak bilang semuanya loh'. mereka menganggap seolah dia itu memiliki kehidupan dari 60. dan sebenarnya 60 itu dari orang tua mereka.
percayalah teman, kadang kala kekayaan, martabat, dan jabatan itu membuat kita lebih sensi, dan memiliki ego yang besar terhadap sesama kita. kadang kita menjadi tidak peduli dengan teman kita karena kita lebih mementingkan diri sendiri dengan kekayaan orang tua kita. tidak peduli dengan teman kita. dengan beranggapan ' ah sudahlah, salah siapa orangttuanya tidak seperti orang tuaku'. oleh karena itu marilah kita menjadi pemuda yang sesungguhnya, tanpa melebihkan dan terlalu bergantung dengan orang tua kita. kita harus membanggakan orangtua kita, namun jangan disalah artikan menjadi sebuah kesombongan.
jadi, mari kita lebih peduli dengan sesama kita dan menjadi pemuda dan pemudi yang sesungguhnya.
Komentar